Breastfeeeding,  Children's,  Food,  Health

MPASI (Makanan Pendamping ASI) Part 1

Bahan Makanan Lengkap dan Seimbang

Tulisan ini saya buat sebagai jejak belajar mengenai MPASI dari beberapa sumber.

Masa-masa MPASI menjadi masa yang menyenangkan (versi mamah) karena di fase ini anak-anak mulai belajar hal baru, yakni mengenal MAKANAN. Bahasan MPASI ini akan panjang sekali. Oleh karena itu, kita bagi menjadi beberapa part aja ya. Part 1 ini akan membahas mengapa anak anak mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI dan kapan MPASI sebaiknya mulai diberikan.

Oh ya, aku disclaimer dulu ya. Tulisan-tulisan ini murni hasil belajar dari beberapa literatur yang menurutku bisa dipertanggung jawabkan. Jadi, jangan baper kalau ada hal-hal yang tidak sesuai dengan pakem teman-teman ya 🙂

Teman-teman, permasalahan gizi di Indonesia bukanlah hal baru, data yang diperoleh dari RISKESDAS 2018, survey tahun 2018 menunjukkan angka gizi buruk dan gizi kurang belum mengalami penurunan yang signifikan dari tahun 2013. Menurut hasil riset yang dilakukan, sebanyak 17,7% bayi dibawah usia 5 tahun mengalami masalah gizi dan dari angka tersebut sebanyak 3,9% balita mengalami gizi buruk dan 13,8% mengalami gizi kurang.

Sumber Gambar : Databoks

Lalu, bagaimana kita sebagai orangtua bisa berperan dalam menurunkan angka ini? Salah satunya adalah dengan menerapkan pemberian makanan bayi yang benar.

WHO pada tahun 2003 mengeluarkan rekomendasi tentang praktik pemberian makan bayi yang benar yaitu:
1. Berikan ASI sesegera mungkin setelah melahirkan (< 1 jam) dan secara eksklusif selama 6 bulan.
2. Berikan MPASI pada usia genap 6 bulan sambil melanjutkan ASI sampai 24 bulan. MPASI yang baik adalah yang memenuhi persyaratan tepat waktu, bergizi lengkap, cukup dan seimbang, aman dan diberikan dengan cara yang benar

Kembali ke topik tulisan pada part 1 ini ya, mengapa anak anak mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI dan kapan MPASI sebaiknya mulai diberikan.

IDAI dalam dokumen Rekomendasi Praktik Pemberian Makanan Berbasis Bukti pada Bayi Batita di Indonesia untuk Mencega Malnutrisi menjelaskan bahwa sejak usia 6 bulan, ASI saja sudah tidak bisa mencukupi kebutuhan energi, protein, zat besi, vitamin D, seng dan vitamina A sehingga dipelrukan MPASI untuk memenuhi kebutuhan zat gizi makro dan mikro. Meskipun demikian, ASI tetap diberikan untuk memenuhi kebutuhan lain yang tidak diperoleh dari makanan seperti imunoglobulin (antibodi), hormon, oligosakarida dan bahan zat lain yang tidak pula ditemukan pada susu formula bayi.

Selanjutnya, kajian yang dilakukan oleh WHO pada tahun 2002 menunjukkan bahwa tidak ada studi yang menunjukkan bahwa bayi yang mendapatkan ASI ekslusif selama 6 bulan mengalami defisit pertumbuhan dalam hal berat badan maupun panjang badan, sehingga WHO merekomendasikan pemberian ASI ekslusif sampai usia 6 bulan dan MPASI dimulai pada usia 6 bulan.

Dari aspek perkembangan, pada usia 6 bulan umumnya sudah menunjukkan tanda kesiapan oromotor yang baik, misalnya sudah bisa duduk dengan tegak, mengordinasikan mata, tangan dan mulut dan sudah bisa menelan makanan.

Sumber referensi lain Guiding Principles for Complementary Feeding of The Breastfeed Child menuliskan bahwa pengenalan makanan pendamping bisa diberikan saat usia 6 bulan (180 hari). Pada sumber ini, ditulis juga asalan saintifik lain yang menunjang pernyataan sebelumnya.

Jadi, buat teman-teman yang ragu kapan mau memulai ber MPASI, jangan tunda untuk memulai MPASI ya 🙂 dan jangan lupa konsultasikan ke dokter spesialis anak perihal kesiapan anak untuk ber MPASI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *