Family,  Food,  Health,  lifestyle

‘Food Safety’ di Dapur (Part 1)

Hari ini saya mendapatkan berita tentang jamur Enoki yang terkontaminasi bakteri Listeria. Agak menggelitik sebenarnya karena nama baik Enoki jadi ga baik lagi deh. Alih-alih takut mengonsumsi Enoki, lebih baik kita kenalan dengan kontaminan dan bagaimana mengendalikannya. Kali ini, saya akan membahas sedikit dari aspek mikrobiologi ya, mengingat saya sekolah di jurusan Mikrobiologi. 😀

Secara awam, kontaminan bisa diartikan sebagai segala benda/zat yang tidak kita inginkan berada pada objek yang sedang kita handling dalam hal ini makanan. Garis besarnya, kontaminan dalam makanan dapat dibedakan menjadi kontaminan biologi seperti bakteri, jamur; kontaminan kimia seperti pestisida; kontaminan fisik seperti rambut, kuku. Kontaminan ini bisa sangat berbahaya bagi manusia terutama bagi kelompok yang rentan atau dengan kondisi fisik yang kurang baik. Pada tulisan ini, saya akan memberi sedikit tips bagaimana Ibu bisa mengendalikan kontaminan saat memproses makanan di dapur.

Four Steps to Food Safety
CDC dalam website nya memberikan informasi mengenai 4 langkah dalam food safety, yakni clean (mencuci), separate (memisahkan), cook (memasak), chill (menyimpan dingin). Mari kita bahas satu per satu.
1. Tahap Pencucian (Clean)
Pada tahap ini, pencucian bertujuan untuk menghilangkan atau mereduksi kontaminan dari sumber-sumber yang berpotensi seperti operator (manusia), bahan makanan dan peralatan yang digunakan. Yang harus dilakukan pada tahap ini adalah
a. Mencuci tangan selama 20 detik sesuai dengan aturan WHO menggunakan sabun dan air mengalir. Cuci tangan dilakukan sebelum, selama dan setelah memproses makanan. Kesalahan yang sering dilakukan adalah hanya membasuh tangan tanpa menggunakan sabun dan hanya mencuci bagian telapak tangan saja. Padahal bakteri atau kontaminan lain bisa berada pada sela-sela jari atau di bawah kuku.
b. Cuci perlengkapan masak yang akan digunakan dengan air mengalir dan sabun. Lebih baik jika menggunakan air panas.
c. Cuci semua sayur dan buah dengan air mengalir.
d. Jangan mencuci daging mentah dan ayam. Oleh karena itu sangat disarankan untuk membeli daging mentah atau ayam di tempat yang kebersihannya terjaga dengan baik. (Untuk bagian ini, nanti saya ulas tersendiri ya)

2. Tahap Pemisahan (Separate)
Pada tahapan ini, penting sekali kita memisahkan bahan makanan mentah dengan makanan yang siap dimakan. Mohon diperhatikan pula, pemisahan ini sebaiknya dilakukan sejak kita belanja dan saat penyimpanan.

3. Tahap Masak (Cook)
Memasak dengan temperatur yang tepat dapat menghilangkan kontaminan biologi yang berbahaya di dalam makanan. Teman-teman bisa membuka website ini untuk melihat rekomendasi suhu minimum dalam memproses makanan. Oleh karena itu, hindari mengonsumsi makanan yang tidak dimakan sempurna seperti mencicipi adonan kue yang mentah, mengonsumsi telor setengah matang atau makanan lain yang tidak dimasak sempurna.

4 Tahap Penyimpanan dalam mesin pendingin (Chill)
Proses pendinginan dilakukan untuk menghambat pertumbuhan mikroba. Temperatur pendingin yang digunakan adalah 4 derajat Celsius atau kurang. Di sini, teman-teman bisa melihat rekomendasi suhu penyimpanan dalam pendingin sesuai dengan jenis makanan. Selanjutnya, kondisi kritis yang berkaitan dengan penyimpanan adalah saat melakukan thawing. Sebaiknya thawing tidak dilakukan pada suhu “normal” karena pada temperatur ini, bakteri akan memperbanyak diri dengan cepat. lakukan thawing pada microwave atau menyimpan di dalam chiller jika makanan/bahan terseut berasal dari freezer.

Dengan memperhatikan hal-hal sederhana di atas, teman-teman bisa mencegah terjadinya kontaminasi dan memutus penularan penyakit yang disebabkan oleh patogen yang ada di makanan (foodborne disease).

Sekian dulu bahasan seputar Food Safety yang bisa kita di dapur. Teman-teman boleh memberi komentar atau ide bahasan untuk Part 2 nya ya 🙂

Salam,
Rahma

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *