Children's,  Family,  hobby

Covid 19 dan Perubahan dalam Hidup Kami

Masih ingat sekali di dalam ingatan bagaimana untuk kali pertama saya mengetahui virus ini, waktu itu nama penyakit yang diakibatkan oleh virus ini dinamakan “Pneumonia Wuhan”. Nama “Wuhan” diambil dari nama daerah di Cina, tempat penyakit ini pertama kali ditemukan. Sebagai seseorang yang sudah berteman dengan mikroba dalam waktu yang tidak sebentar, feeling ku mengatakan “ada yang g beres ni”.

Berganti tahun, saat itu sekitar bulan februari 2020. Seperti biasa saya mengantar anakku sekolah kemudian mengobrol dengan kepala sekolah, lalu beliau mengatakan “Bu, Jakarta sebentar lagi tutup loh Bu.” Saat itu, sekolah di Bandung masih beroperasi seperti biasanya. Dan benar saja, tidak lama kemudian kami mendapatkan email cinta dari sekolah bahwa sekolah diliburkan. Rafa 2 minggu lebih cepat belajar di rumah dibandingkan teman-teman lain di Bandung.

Tidak panjang yang akan saya ceritakan tentang bagaimana virus ini masuk ke Indonesia. Saya akan menceritakan bagaimana virus ini mengubah hidup kami dan hikmah yang kami dapatkan dari kejadian pandemi covid19.

  1. Menyadari bahwa pembagian peran di dalam keluarga sangat penting.
    Salah satu perubahan besar yang terjadi saat pandemi adalah Uwa Entin yang biasa membantu pekerjaan rumah dan menemani anak-anak resign karena kondisi kesehata. Artinya, Mamah dan Papa berbagi peran ekstra dalam mengurus rumah dan anak-anak. Ternyata bisa! Tips nya?
    Berbagi peran. Termasuk Rafa dilibatkan dalam pekerjaan rumah.
  2. Menyadari bahwa proses belajar itu bisa dilakukan di mana saja dan dengan siapa saja.
    Seperti yang kita ketahui bersama, anak-anak sekolah di rumah. Artinya, proses belajar tidak harus dilakukan di sekolah. Tidak harus difasilitasi oleh guru. Tips nya?
    Bangun komunikasi yang baik antara guru dan orangtua, memperkaya diri dengan literasi digital dan memahami anak dengan baik.
  3. Kesehatan bisa dijaga dengan perilaku sehat dan lingkungan yang baik.
    Selama pandemi ini, kebersihan di lingkungan rumah ditingkatkan. Anak-anak diedukasi untuk selalu menjaga kebersihan diri dan berhati-hati ketika kontak dengan orang lain. Hasilnya, alhamdulillah satu tahun ini kami semua dalam kondisi sehat. Sepertinya dalam satu tahun ini kami hanya tiga kali membawa anak-anak ke fasilitas kesehatan, antara lain untuk sunat rafa, cek mata dan ke dokter gigi.
  4. Mamah semakin aktif belajar.
    Ya, benar saja. Sekarang proses belajar bisa dilakukan di mana saja. Dulu, kalau mau belajar harus memikirkan anak-anak karena mereka dititipkan ke Kakek dan Nenek. Sekarang, tinggal buka laptop lalu berselancar di internet. For information, Mamah lagi beresin kelas Podcast ni hehehehe.
  5. Belajar lebih kritis terhadap informasi.
    Kemampuan berpikir kritis ini perlu dilatih terlebih lagi ketika informasi bisa dengan mudah disebar. Selama masa pandemi ini, banyak sekali informasi-informasi yang kebenarannya dipertanyakan. Kapan-kapan kita bahas khusus tentang ini ya.
  6. Mamah sakit mental kemudian menjadi lebih baik.
    Awalnya malu mengakui hal ini. Tapi, ya diterima saja. Jadi, setelah mamahku meninggal dunia dan beberapa kejadian yang membuat trauma mendalam, saya mengalami anxiety disoder. Dan di awal pandemi, anxiety disorder kembali menghantui. GERD tidak kunjung sembuh, gastroparesis melelahkan, insomia, mual muntah, tremor, dan gejala lainnya. Selama pandemi sepertinya saya dua kali berkonsultasi ke psikolog. Menurutnya, saya mengalami mortality anxiety. Setelah melewati pengobatan dengan racikan obat-obat saraf dan akupuntur, semua menjadi lebih baik. Mungkin bisa dibilang, lebih terkendali.


    Lainnya, karena pandemi, kami bisa jalan-jalan ke Cukul, Rancabali, melewai Malabar, dll. Ayo siapa yang bisa menebak ini nama-nama apa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *